Jl.Raya Bunpenang No.06 - Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep

Pelatihan Pengembangan Produk Siwalan



                        

Bunpenang, Mahasiswa KKN 87 Universitas Trunojoyo Madura mengadakan pelatihan pengembangan produk siwalan yang dilaksanakan di Balai Desa Bunpenang pada hari kamis kemarin (27/07/17).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan potensi usaha yang ada di Desa Bunpenang sehingga di harapkan nantinya masyarakat Bunpenang bisa lebih mandiri, baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Selain itu juga diharapkan kegiatan tersebut dapat memotivasi masyarakat untuk berani membuka peluang usaha dan menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat desa.

Dalam acara pelatihan tersebut juga diadakan presentasi tentang produk-produk hasil olahan siwalan. Diantaranya seperti permen siwalan, stick siwalan dan es krim siwalan.
Dalam pelatihan kewirausahaan di desa Bunpenang diberikan pelatihan-pelatihan tentang bagaimana cara pembuatan produk sampai teknik pengemasan produk yang baik.

Acara ini mendapat respon positif dari masyarakat desa Bunpenang, hal ini dapat dilihat dari antusias warga untuk mengadiri kegiatan tersebut. Yakni, 30 masyarakat yang pesertanya merupakan ibu-ibu PKK.

Menurut Roudhotul Jannah yang merupakan penanggung jawab acara ini mengatakan bahwa pelatihan kewirausahaan di desa tersebut sangatlah penting karena dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan ekonomi masyarakat sekaligus dapat membantu masyarakat sekitar untuk menciptakan usaha mandiri. 

"Senang sekali hari ini bisa berbagi pengalaman dan sedikit ilmu tentang kewirausahaan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu PKK di desa Bunpenang ini. Masyarakat sangat antusias terhadap acara ini dan semangat mengikuti pelatihan. Semoga ini bisa menjadi langkah awal segenap masyarakat desa Bunpenang menuju masyarakat yang mandiri dengan usaha ini”, ujar wanita yang akrab di panggil Jannah.

Share:

Pawai PAUD Memperingati Hari Anak Nasional



Bunpenang-Menyambut Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2017, anak-anak  pendidikan usia dini di desa Bunpenang menggelar pawai, Senin (24/7). Pawai Hari Anak Nasional ini diikuti 27 peserta murid PAUD Walisongo di desa Bunpenang yang di lepas secara resmi oleh kepala sekolah PAUD, Bapak Baini. Dengan menggunakan kostum olahraga, anak-anak PAUD tersebut terlihat sangat semangat serta begitu antusias saat acara pawai berlangsung. Adapun rute perjalanan pawai itu sendiri di mulai dari sekolah PAUD Walisongo menuju ke Balai desa Bunpenang.  

Kepala sekolah PAUD Walisongo, Bapak Baini menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap antusias anak-anak dalam memeriahkan HAN dengan mengikuti pawai tersebut “selain untuk memperingati Hari Anak Nasional, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan lingkungan kepada anak-anak yang masih berusia dini sekaligus juga menunjukkan keberadaan PAUD di desa Bunpenang” jelas pak Baini di sela-sela melepas peserta pawai HAN kemarin.

Sementara wali murid dari siswi yang bernama Ainur, mengungkapkan rasa bangganya terhadap acara ini, “saya pribadi sangat senang sekali dengan acara pawai ini, harapan kedepannya semoga PAUD Walisongo dapat berkembang pesat dan semakin maju” tuturnya.

Moment hari anak nasional merupakan saat tepat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini. Diharapkan dalam perkembangannya, anak-anak mampu mengenal lingkungan dengan baik dan tumbuh mandiri.

Share:

Asal Mula Nama Desa & Dusun

Bunpenang merupakan salah satu desa yang masuk kedalam Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Perlu diketahui bahwa asal usul nama Desa Bunpenang berasal dari kebun pohon pinang yang mana kebun pohon pinang tersebut dulunya kebanyakan berada di Desa Bunpenang bagian selatan. Namun, banyak warga dari Desa Bunpenang bagian selatan pindah ke bagian Bunpenang saat ini dikarenakan di Desa Bunpenang bagian selatan terjangkit penyakit kolera. Oleh karena itu, banyak warga yang pindah ke Bunpenang saat ini untuk bermukim dan menetap.

Bunpenang memiliki 3 dusun diantaranya : Sempajung, Daja Lorong, Laok Lorong. Asal nama dusun yang ada di desa bunpenang memiliki sejarah tersendiri. Nama Sempajung berawal dari nama pohon yang ada di masyarakat yaitu pohon asem yang berbentuk payung, sehingga oleh masyarakat dusun yang tinggal di daerah itu disebut dusun Sempajung.

Sedangkan dua dusun lainnya, yaitu dusun Daja lorong dan Laok Lorong berasal dari dua nama dusun yang masing-masing berbeda, yang Daja Lorong bernama dusun Aeng Longon dan dusun Laok Iorong bernama Langgar.

Kedua dusun tersebut pada mulanya bersebelahan, tidak ada pembatas namun hanya berupa pembatas antara petak ladang dengan ladang lainnya(Tabun).

Pada zaman Belanda dibangunlah sebuah jalan (Lorong) antara dusun Daja Lorong dan Laok Lorong untuk memperlancar transportasi orang-orang Belanda pada saat itu, tepat diantara dusun Aeng Longon dan Langgar(di tabun). Sehingga kedua dusun tersebut hanya terpisah oleh sebuah lorong, dan selanjutnya dusun Aeng longon dan Langgar menjadi dusun Daja Lorong dan dusun Laok Lorong.

Narasumber  : Bapak K Sakin
Alamat  : Dusun Laok Lorong
Jabatan  : Tokoh Masyarakat
Umur  : 79 th

Share:

Sejarah Pemerintahan Desa

Sejak zaman penjajahan Belanda, bunpenang sudah dipimpin oleh seorang kalebun (Kepala Desa) diantaranya :
1. K.Udin (Kepala Desa zaman Pemerintahan Belanda).
2. K. Saliha (Kepala Desa zaman Pemerintahan Belanda).
3. Samadin sekitar Tahun 1926 -1951 kurang lebih sekitar 25 tahun.
4. Amsukin mulai tahun 1951-1959 kurang lebih sekitar 8 tahun (putera dari bapak Samadin).
5. Adus Syukur pada tahun 1959 -1971 kurang lebih sekitar 12 tahun (Saudara dari bapak Amsukin). 6. H. Abd. Muhni pada tahun 1971-1998 (periode I) dan pada tahun 1998-2007 (periode II).
7. H. Moh Eksan pada tahun 2007-2014(putera dari Bapak Abd.Muhni).
8. H. Sunanto pada tahun 2014-2016.
9. H. Moh Eksan dari 2016 hingga sekarang.

Sebelum tahun 1998 tepatnya pada pemerintahan Abd. Muhni periode I, struktur organisasinya adalah :
1. Kepala Desa.
2. Carek.
3. Modin.
4. Apel.

Setelah tahun 1998 tepatnya pada pemerintahan Abd. Muhni periode II, struktur organisasinya berubah menjadi :
1. Kepala Desa.
2  Sekretaris Desa.
3. Tiga(3) Kadus.
4. Tiga(3) Kaur, yaitu : Kaur Umum, Kaur Keuangan dan Kaur Perencanaan.
5. Tiga(3) Kasi, yaitu : Kasi Pemerintahan, Kasi Pembangunan, dan Kasi Kesra.

Perlengkapan lainnya seperti LINMAS(Perlindungan Masyarakat), pada tahun 1950 masih bernama PKD(Penjaga Keamanan Desa). Pada tahun 1957, PKD berubah nama lagi menjadi OPR(Organisasi Pertahanan Rakyat). Setelah tahun 1965, nama OPR berubah menjadi HANSIP(Pertahanan Sipil) dan sekarang berubah lagi menjadi LINMAS.
Share:

Budaya Tandek Di Desa Bunpenang



Tandek  merupakan istilah lain dari sinden  dan merupakan  budaya lokal di Madura. Budaya tandek di Madura selalu diringi dengan saronin sebagai musik khas Madura. Budaya tandek di desa Bunpenang, kecamatan Dungkek, kabupaten Sumenep sangat dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Terbukti pada tanggal 20 Juli 2017, budaya tandek ditampilkan dalam acara pernikahan sepasang pengantin warga desa Bunpenang.

Seorang tandek (sinden) memegang peranan penting dalam acara tersebut. Selain sebagai seorang penyanyi dan penari penghibur para tamu, namun juga menemani setiap tamu yang “tandeng” atau menari dan menerima saweran. Para tandek pada umumnya akan menghampiri kelompok para tamu laki-laki yang telah membuat kelompok dengan duduk secara melingkar kemudian para tandek akan mengajak para tamu yang ingin menyawer untuk naik ke atas panggung yang telah disediakan secara bergantian dengan kelompok lain. Tujuan budaya tandek sendiri tidak sekedar sebagai penghibur dalam suatu acara, namun tujuan utamanya yakni untuk  melestarikan budaya lokal Madura.


Share:

Balai Desa Bunpenang Ramai Diserbu Warga



Sabtu 22 Juli 2017, halaman balai desa Bunpenang Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep terlihat ramai. Menjelang pukul 15.00 sejumlah orang tua terlihat berdatangan dengan membawa anaknya masing-masing. Tiga meja pelayanan dan sekitar 15 buah kursi plastik diatur rapi di halaman balai desa. Tiap bulan pemerintah desa menggelar pembagian susu formula gratis bagi balita. Tercatat ada sebanyak 60 balita yang mendapatkan susu formula tersebut.
Tujuan dari kegiatan pembagian susu formula gratis bagi balita ini yaitu untuk menambah gizi bagi para balita desa Bunpenang. Pemberian susu formula ini dilakukan tidak hanya pada balita yang kurang gizi saja, namun juga pada balita yang sehat. Ibu Kepala Desa Hj.Narsih mengatakan bahwa “anggaran kegiatan ini bersumber dari dana desa, jadi sudah seharusnya dimanfaatkan oleh semua masyarakat yang salah satunya melalui pemberian susu formula untuk balita ini.”
Kegiatan pembagian susu formula gratis bagi balita ini melibatkan kader posyandu Desa Bunpenang. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa-mahasiswi UTM yang kebetulan sedang melaksanakan KKN di Desa Bunpenang. Aripin salah satu mahasiswa berkata “saya sangat senang bisa membantu kegiatan ini, karena bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kegiatan ini juga sangat membantu masyarakat terutama masyarakat miskin di desa, ya minimal anak-anak mereka”.

Banyaknya orang yang datang membuat suasana di balai desa sangat ramai. Beberapa kali terdengar suara balita menangis, juga terdengar coletahan anak-anak. Para orang tua pun terlihat berbincang-bincang dengan yang lainnya. Orang tua yang datangpun mengaku senang dan merasakan manfaat dari kegiatan tersebut.

Share:

Panen Nira Siwalan (La’ang)



Nira siwalan adalah cairan yang disadap dari tangkai bunga pohon siwalan. Mayarakat Madura biasa menyebutnya dengan nama la’ang. Pemanenan nira siwalan dapat dilakukan ketika pohon mencapai usia 15-20 tahun, dan pemanenan dapat dilakukan terus selama 30 tahun. Pohon siwalan baik jantan maupun betina keduanya dapat menghasilkan nira, tetapi nira yang dihasilkan dari pohon betina 50% lebih banyak jika dibandingkan pohon jantan. Nira siwalan dapat digunakan untuk pembuatan gula merah, gula semut, legen dll.

Mayoritas masyarakat Desa Bunpenang menjadikan kegiatan panen nira siwalan sebagai sumber nafkah utama ataupun sebagai nafkah tambahan. Proses penyadapan nira siwalan dilakukan dengan cara mengiris tandan bunga dengan pisau dengan mengarah kebawah untuk mengeluarkan tetesan nira siwalan yang ditampung diwadah timba. Pohon siwalan yang sudah produktif, rata-rata menghasilkan 6 Liter nira siwalan per hari.


Sementara itu kerusakan nira bisa terjadi pada saat nira mulai keluar dari malai dan ditampung pada timba penampung atau pada waktu nira disimpan untuk menunggu pengolahan. Untuk memperlambat terjadinya kerusakan nira siwalan selama proses peyadapan, masyarakat Bunpenang biasanya memberikan bahan pengawet berupa kulit dari kayu pelembeng di timba penampung.




Share:

Bunpenang Kaya Tumbuhan Siwalan



Siapa yang tidak kenal dengan tumbuhan yang satu ini. Siwalan termasuk dalam tumbuhan palem dan biasa tumbuh di daerah kering terutama di pesisir utara Jawa. Tumbuhan dengan nama ilimiah Borassus Flabellifer ini dapat kita jumpai di daerah Sumenep, Madura yang salah satunya ada di Desa Bunpenang Kecamatan Dungkek. Di desa ini, Siwalan dapat tumbuh subur. Bahkan Bunpenang merupakan penghasil siwalan terbesar di Kecamatan Dungkek, tentu hal ini menjadi potensi Desa Bunpenang. 

Rasa buah siwalan hampir menyerupai kolang kaling, namun banyak yang mengatakan bahwa rasa buah siwalan lebih enak daripada kolang kaling. Bunga dari pohon siwalan dapat diambil niranya untuk dibuat minuman yang disebut Legen. Dari air niranya tersebut juga bisa dibuat gula merah. Produksi gula siwalan memang tidak selamanya bisa dilakukan. Sebab pada musim hujan, air siwalan akan sangat sulit didapat daripada musim kemarau. Tidak hanya buah dan bunganya, daun siwalan juga bisa dibuat kerajinan tangan, seperti tas, tikar, topi dan lain-lain.

Masyarakat Desa Bunpenang biasanya hanya memanfaatkan niranya untuk dibuat gula merah. Setelah jadi, mereka akan menjualnya kepada tengkulak yang setiap hari datang ke desa. Uang hasil penjualan kemudian mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan buahnya sendiri kurang diminati masyarakat karena mereka menganggap tidak memiliki nilai ekonomis. Masyarakat Desa Bunpenang hanya memanfaatkan buahnya untuk campuran minuman, dan pakan sapi. 

Banyaknya buah siwalan tampaknya belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Bunpenang. Kedepannya potensi siwalan ini akan terus dikembangkan lagi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa Bunpenang.




Share:

Pembukaan KKN 87 UTM Desa Bunpenang



Kamis 20 Juli 2017, Desa Bunpenang kedatangan tamu dari Universitas Trunojoyo Madura, yang tak lain adalah mahasiswa-mahasiswi yang akan melakukan KKN Tematik di Desa Bunpenang. Dalam acara yang bertajuk Pembukaan KKN dan pemaparan program kelompok KKN 87 UTM di Balai Desa Bunpenang tersebut dihadiri oleh aparatur desa, tokoh agama, ketua koperasi serta kelompok PKK Desa Bunpenang.

Acara tersebut bertujuan untuk saling memperkenalkan antara anggota kelompok KKN 87 UTM dengan perangkat desa Bunpenang dan para tokoh agama serta pemaparan program kerja kelompok 87 selama 25 hari kedepan.

Koordinator KKN Halimi dalam sambutannya mengungkapkan terimakasih atas penerimaan peserta KKN oleh pemerintah desa. “Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Kepala Desa serta masyarakat Desa Bunpenang yang telah menerima kami dengan sangat baik. Kami mengharapkan kerjasama dari masyarakat untuk mendukung dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan KKN 87 ini. Kami juga meminta maaf apabila ada kesalahan baik dalam tutur kata maupun perbuatan, karena para peserta KKN ini berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dari masyarakat Bunpenang. Anggap kami sebagai anak Bapak/ibu sekalian, agar tidak sungkan untuk menegur apabila kami melakukan kesalahan”.

Sementara itu Kepala Desa H.Moh Eksan dalam sambutannya mengucapkan selamat datang  pada para peserta KKN serta menyambut kedatangan KKN Kelompok 87 dan program kegiatan dengan tangan terbuka. “Saya menghimbau agar warga ikut partisipatif mengikuti program kegiatan yang disusun adik-adik. Karena tanpa Anda, kegiatan tersebut tidak akan bisa sukses. Disamping program tersebut juga tentu disusun agar membawa manfaat bagi warga,” pungkasnya.

Diharapkan dengan adanya KKN ini dapat membantu pemerintah desa untuk mengembangkan berbagai potensi yang ada di masyarakat. Sehingga dengan dikembangkannya potensi tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan memiliki produk unggulan asli Bunpenang.

Di akhir acara, dilakukan penandatanganan MoU oleh kepala desa dan koordinator KKN agar kerjasama antara Desa Bunpenang dan peserta KKN masih tetap berjalan walaupun kegiatan KKN telah berakhir.
Share:

Musyawarah Desa (Pembahasan Rastra)



Bunpenang merupakan desa yang terletak di Kecamatan Dungkek, Sumenep yang terdiri dari 3 dusun. Jumlah penduduk Desa Bunpenang sebanyak 1.650 jiwa atau 635 KK. Kondisi ekonomi penduduk Desa Bunpenang sendiri bermacam-macam.

Hari ini tanggal 20 Juli 2017, pemerintah desa Bunpenang menyelenggarakan musyawarah desa bersama pejabat desa dan tokoh agama di Balai Desa. Musyawarah tersebut membahas adanya pemangkasan jatah penerima rastra (beras sejahtera) Desa Bunpenang yang jatah awal sebanyak 151 KK berkurang menjadi 110 KK.

Kepala Desa Bunpenang H.Moh Eksan menuturkan bahwa pemangkasan jatah penerima rastra bukan dari pemerintah desa, namun langsung dari pemerintah pusat sedangkan pemerintah desa hanya sebagai pihak yang mengajukan saja. Kepala Desa juga sangat mewanti-wanti kepada aparat desa agar menyalurkan rastra secara tepat.

Sementara itu Sekretaris Desa Martono, mengajak seluruh aparat desa untuk bahu membahu secara bersama-sama membangun masyarakat yang sejahtera serta meningkatkan keamanan desa Bunpenang.

Musyawarah tersebut sengaja digelar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat serta menghindari kecemburuan sosial antar warga.


Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Jadwal Sholat